Apa arti K1, K2, dan K3
Dalam perdagangan garam rakyat di Indonesia, garam hasil tambak dikelompokkan ke kelas mutu K1, K2, dan K3. Huruf K dibaca sebagai kualitas, dan angkanya menunjukkan urutan: K1 kelas tertinggi, K3 kelas terendah. Pengelompokan ini terutama didasarkan pada kadar natrium klorida (NaCl), warna kristal, dan banyaknya kotoran yang ikut terbawa saat panen.
Grade K bukan parameter dalam SNI 3556:2016. Standar itu mengatur angka yang dapat diuji, seperti NaCl minimal 94% adbk dan kadar air maksimal 7% (sumber). Batas antar grade K juga berbeda antar sumber literatur. Karena itu grade cocok untuk percakapan awal dengan pemasok, sedangkan kontrak pembelian sebaiknya memakai angka hasil uji laboratorium.
Krosok atau gosrok?
Garam krosok adalah garam kristal kasar hasil penguapan air laut di tambak, dijual dalam butiran besar sebelum digiling atau dihaluskan. Di sebagian daerah garam yang sama disebut gosrok, dan pembeli juga sering menyebutnya garam kasar. Ketiga sebutan itu merujuk ke produk yang sama.
Di mesin pencari, kata “gosrok” hampir tidak punya saran pencarian sendiri dan Google mengoreksinya menjadi “krosok”. Karena itu situs ini memakai krosok sebagai istilah utama. Krosok Ventura termasuk lini Garam Non Yodium: ketiga grade dijual tanpa penambahan yodium. Untuk garam halus dengan ukuran butir tertentu, lihat ukuran mesh.
Perbandingan grade K1, K2, K3
Kolom kadar NaCl dan tampilan adalah deskripsi umum industri dari literatur (telaah KKP), bukan spesifikasi produk Ventura. Kolom terakhir diisi dari COA Ventura per batch.
| Grade | Kadar NaCl (deskripsi umum industri) | Tampilan (deskripsi umum industri) | COA Ventura |
|---|---|---|---|
| K1 | Minimal 94% | Putih, bersih | [COA] |
| K2 | Sekitar 90–94% | Di antara K1 dan K3 | [COA] |
| K3 | Di bawah K2 | Lebih kusam, keabu-abuan | [COA] |
Angka literatur bervariasi antar sumber. Halaman produk: Garam Krosok K1, K2, K3.

Mengapa warna dan kotoran berbeda antar grade
Warna abu-abu pada garam grade rendah umumnya berasal dari partikel tanah atau lumpur dari dasar petak penguapan, serta dari garam magnesium dan kalsium yang ikut mengkristal bersama NaCl. Kotoran ini menurunkan kadar NaCl dan menaikkan bahan tak larut.
Pencucian dapat mengurangi sebagian kotoran tersebut. Jadi angka akhir di COA dipengaruhi oleh grade bahan baku dan oleh proses setelah panen. Dua garam yang sama-sama disebut K2 bisa memiliki angka NaCl dan kadar air yang berbeda, dan itulah alasan pembeli perlu melihat COA batch.
Grade mana untuk penggunaan apa
Pilihan umum di pasar; konfirmasi dengan spesifikasi proses Anda.
| Penggunaan | Grade yang umum dipilih | Alasan |
|---|---|---|
| Pengasinan ikan | K1 atau K2 | Garam yang lebih bersih mengurangi kotoran yang menempel pada ikan. K2 dipilih bila biaya lebih menentukan. |
| Regenerasi water softener | K1 | Bahan tak larut yang rendah mengurangi endapan di tangki brine. |
| Pakan ternak | K2, atau garam halus non-yodium | Garam dicampur ke pakan, sehingga ukuran butir dan kadar air lebih menentukan daripada warna. |
| Industri kimia, tekstil, dan kulit | K2 atau K3, atau sesuai spesifikasi | Garam dilarutkan atau dipakai dalam proses; batas NaCl dan bahan tak larut ditentukan oleh proses pembeli. |
Pilihan umum; konfirmasi dengan spesifikasi Anda.
Yang perlu ditulis di permintaan penawaran
Sebut grade sebagai titik awal, lalu tambahkan angka yang dapat diuji: NaCl minimal dalam % adbk, kadar air maksimal, bahan tak larut maksimal, dan rentang ukuran butir bila proses Anda memerlukannya. Dengan angka itu pemasok dapat memilih batch yang sesuai dan menerbitkan COA yang bisa Anda periksa. Penjelasan setiap parameter ada di halaman spesifikasi.
Sebagai pembanding, SNI 3556:2016 mensyaratkan NaCl minimal 94% adbk untuk garam konsumsi beryodium (sumber). Angka ini sama dengan batas bawah K1 dalam literatur, tetapi standar itu berlaku untuk garam konsumsi beryodium, bukan untuk krosok non-yodium. Untuk kebutuhan garam beryodium, lihat kadar yodium.